Foto: ist
KOSADATA — Pembina Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), Mulyanto, mengkritik keras insiden pengusiran wartawan dari acara pengarahan Presiden Prabowo Subianto kepada lembaga Danantara, Senin, 28 April 2025. Acara yang digelar secara tertutup di Town Hall Danantara itu, menurut Mulyanto, menandai kemunduran dalam prinsip keterbukaan informasi publik.
“Harusnya pemerintah memberi akses seluas-luasnya kepada media untuk meliput acara tersebut. Media adalah representasi masyarakat. Mereka berhak tahu apa yang akan Presiden lakukan terhadap Danantara,” ujar Mulyanto melalui keterangan tertulis, Selasa, 29 April 2025.
Mulyanto menilai, sebagai institusi publik yang mengelola aset negara dalam skala jumbo, Danantara justru semestinya menjadi objek pengawasan publik yang ketat. Penutupan akses bagi jurnalis, kata dia, berisiko memunculkan kecurigaan dan persepsi buruk atas transparansi lembaga tersebut.
Ia mengapresiasi langkah Presiden Prabowo yang meminta evaluasi menyeluruh terhadap 844 entitas BUMN, termasuk anak dan cucunya. Namun ia mengingatkan, arahan itu jangan berhenti di ruang pidato belaka.
"Aset yang dikelola Danantara ini luar biasa besar, mencapai satu triliun dolar AS. Arahan Presiden jangan hanya jadi retorika. Harus ada tindakan konkret," ujarnya.
Mulyanto mengutip serangkaian kasus korupsi di tubuh BUMN sebagai latar pentingnya pengawasan: Rp 195 triliun di PT Pertamina, Rp 300 triliun di PT Timah, belum termasuk kasus lain di Asabri, Jiwasraya, hingga Garuda. Menurutnya, ini bukan sekadar kerugian korporasi, tapi kejahatan terhadap keuangan
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0