Walhi melaporkan 47 korporasi kepada kejaksaan agung atas dugaan pengrusakan lingkungan. Foto: ist
"Misalnya, setelah menambang, harus ada reklamasi yang diawasi dengan ketat agar hutan bisa pulih. Begitu juga dengan eksploitasi kayu di sektor kehutanan, harus dibarengi dengan upaya menjaga ekosistem," jelasnya.
Membangun Tanpa Merusak
Angka kerugian Rp437 triliun yang disebut WALHI, menurut Priyono, hanyalah gambaran kecil dari dampak sesungguhnya. Ia menegaskan bahwa ini bukan hanya soal uang, tetapi juga tentang warisan lingkungan bagi generasi mendatang.
Sebagai solusi jangka panjang, ia mendorong perubahan fundamental dalam tata kelola sumber daya alam di Indonesia. Jika selama ini pembangunan dilakukan dengan cara yang eksploitatif, maka kini saatnya mengadopsi prinsip pembangunan yang berkelanjutan.
"Jika pola eksploitasi ini terus berlanjut, kita bukan hanya kehilangan sumber daya, tetapi juga mewariskan bencana ekologis bagi anak-cucu kita," tegasnya.
Ia juga mendorong pemerintah untuk lebih aktif berkolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna menciptakan kebijakan berbasis sains. Dengan demikian, Indonesia bisa menjadi barometer dunia dalam upaya mitigasi reforestasi dan rehabilitasi lingkungan.
"Harapannya, Indonesia tidak menuju pada narasi kelam kehancuran lingkungan, tetapi justru menjadi contoh bagi dunia dalam membangun secara berkelanjutan," tutupnya.***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0