Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi dan Presiden RI, Joko Widodo berbincang dengan salah satu petani. Foto: Humas Bapanas
“Di 2024 ini memang lebih menantang. Adanya kemunduran panen raya yang biasanya di Maret, ini kita lihat di tahun 2024 panen raya di April," ucapnya
Dalam publikasi “Evaluasi Statistik Harga Produsen Gabah 2023” yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Juli 2024, disebutkan sepanjang 2023, persentase kasus harga gabah di bawah HPP relatif lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini terjadi, dipengaruhi meningkatnya harga jual gabah dan permintaan dibandingkan tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, dalam publikasi tersebut, BPS melaporkan persentase tertinggi kasus harga gabah di bawah HPP sempat terjadi pada April 2023 sebesar 22,75 persen di tingkat petani. Persentase ini mengalami penurunan secara perlahan di bulan-bulan berikutnya hingga di Desember 2023 berada di 0,12 persen. Persentase kasus harga gabah di bawah HPP disebutkan tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2022.
Sedangkan untuk perkembangan produksi beras di 2024 menurut Kerangka Sampel Area (KSA) BPS amatan Mei yang terbit pada minggu ketiga Juni lalu, April 2024 merupakan titik tertinggi estimasi produksi beras yang dapat mencapai 5,31 juta ton. Sementara puncak produksi beras di 2023 terjadi pada Maret di angka 5,13 juta ton.
Selanjutnya dari data KSA BPS amatan Mei, proyeksi produksi beras di Juni 2024 bisa meraih 2,02 juta ton. Lalu di Juli mulai naik ke 2,19 juta ton dan di Agustus 2,67 juta ton. ***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0