Crang Crong Keroncong Tugu, Membawa Betawi ke Musikalitas Dunia

Ida Farida
Sep 10, 2023

Sejumlah seniman sedang berlatih musik di markas Keroncong Tugu, belum lama ini. Foto: dok pribadi

KOSADATA - Gitar berdawai lima yang dimainkan oleh Guido Quiko seakan membawa suasana tempo dulu di kediamannya di daerah Cilincing Jakarta Utara. Sesekali, seniman Keroncong Tugu itu menyeruput kopi panasnya, yang kemudian kopi itu lama kelamaan menjadi dingin karena fokus Quido dengan gitarnya.

Guido, merupakan penerus tradisi Keroncong Tugu, dia merupakan generasi ke empat. Alasan dia bertahan hingga saat ini adalah karena keinginannya merawat warisan budaya yang lahir di tanah Betawi ini.

“Kami punya misi mempertahankan apa yang leluhur kami dulu rawat yaitu Keroncong Tugu ini. Kami sangat menjaga keasliannya,”katanya dikediamannya di Kampung Tugu, Cilincing Jakarta Utara, beberapa waktu lalu.

Dibalik kejayaan Keroncong Tugu sebenarnya ada cerita yang mengingatkan banyak hal. Saat Belanda menguasai Malaka, Belanda banyak mengasingkan orang-orang Portugis yang bertahan. Menurut Guido ada kurang lebih 800 orang yang dibawa ke Batavia kala itu.

Namun saat tahun 1661, orang-orang Portugis disana diasingkan ke wilayah Tugu, yang dulu masih hutan lebat. Lokasi itu kata Guido juga merupakan sarang nyamuk malaria.“Entah apa maksud Belanda saat itu mungkin tujuannya untuk menyingkirkan kami pelan-pelan. Tapi nyatanya kami malah bertahan hidup di kawasan Tugu ini,” katanya menceritakan sejarah masa lalu leluhurnya.

Kebiasaan masyarakat Portugis kala itu, di setiap sore adalah memainkan alat musik hasil buatan tangan mereka sendiri. Gitar, Ukulele atau Machina, Biola dan lain-lainnya. Sampai sekarang pun Guido kerap membuat alat musik sendiri.

Baca juga:

1 2 3 4

Related Post

Post a Comment

Comments 0