Dewan soroti mahalnya tiket pesawat Garuda Indonesia. Foto: ist
“Kami berterima kasih kepada Pak Menteri dan Dirjen Perhubungan Darat. Tapi kami juga berharap tidak hanya melayani umrah dan haji. Harusnya penerbangan ke Malaysia, Singapura, dan negara ASEAN lainnya bisa dibuka kembali dari bandara ini,” ujar mantan Gubernur Sumatra Selatan itu.
Pernyataan Ishak mencerminkan tekanan publik terhadap pengelolaan transportasi udara nasional yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan konsumen, khususnya dalam aspek keterjangkauan dan keandalan layanan.
Terpisah, Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani menjelaskan setidaknya ada tiga tantangan utama yang dihadapi maskapai penerbangan, termasuk di Indonesia.
Pertama, sejak perumusan tarif batas atas (TBA) terakhir pada 2019, struktur biaya maskapai telah berubah secara signifikan utamanya peningkatan harga avtur dan beban maintanance atau pemeliharaan.
Kedua, perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak 2019 turut memberikan dampak besar.Ketiga, margin keuntungan maskapai yang sangat ketat membuat mereka rentan terhadap penurunan load factor atau jumlah penumpang.
“Penurunan load factor atau jumlah penumpang 3-5 persen, ini sangat mempengaruhi margin profit dari maskapai,” kata Wamildan seperti dilansir Antara.
Sebagai gambaran, Wamildan menyebut sebuah penerbangan rute Cengkareng-Denpasar pada 2019 membutuhkan biaya Rp194 juta. Namun, saat ini, total biaya meningkat menjadi Rp269 juta atau naik 38 persen.***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0