Duet Anies-Cak Imin Timbulkan Masalah Baru

Ida Farida
Sep 01, 2023

Ketum PKB, Muhaimin Iskandar. Foto: twitter CakIminNow

Anies.

Kedua, Perjuangan Cak Imin di Koalisi Perubahan masih Nol dan belum jelas komitmennya.

Seandainya Cak Imin sepaham dengan cita-cita koalisi perubahan, seharusnya sudah dari awal bergabung. Masa orang yang baru bergabung bisa mengalahkan orang yang sudah berjuang dan "bertaruh nyawa" ? Jika pun PKB masuk koalisi sebaiknya jangan langsung diposisikan cawapres. Jika mau mengambil dari partai, AHY dan AHER tentu lebih berhak. Soal dukungan massa, antara Cak Imin, AHY, dan AHER tidak jauh beda. 

Ketiga, Soal menambah elektabilitas dari pemilih Nahdhiyyin, figur Anies dan Yeni Wahid sudah sangat menjangkau mayoritas suara Nahdhiyyin.

Dari berbagai kunjungan Anies ke kantong-kantong nahdhiyyin (Pesantren, Majlis Ta'lim, Ormas, dan jamaah), mayoritas nahdhiyyin mendukung Anies. Belum lagi jika ditambah dukungan dari Yeni Wahid (Gusdurian). 

Keempat, Jika pencawapresan Cak Imin bukan murni pilihan Anies, ini sangat mengkhawatirkan ke depannya tentang kemandirian dan hak prerogatif seorang presiden.

Semula semua partai koalisi perubahan telah sepakat kalau pemilihan cawapres diserahkan penuh kepada Anies. Jika ada Ketum Partai koalisi Perubahan yang ikut _cawe-cawe_ dan tidak rela atas pilihan Anies tentu ini preseden buruk yang bisa mengganggu konsentrasi Anies dalam membuat kebijakan secara independen.

Kelima, Duet Anies-Cak Imin tidak memberikan dampak signifikan, tapi malah bisa menggerus suara pengusung Anies.

Oleh karena itu, dalam hemat penulis Duet Anies-Cak Imin lebih buruk daripada duet Anies-AHY. atau Anies- Aher. Jika mau dari luar koalisi baiknya Anies - Gatot atau Anies - Susy P.

Semoga koalisi Perubahan tetap solid dan mengambil jalan tengah (win-win solution) demi kesatuan, keharmonisan semua anggota koalisi Perubahan.***


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0