Sam Muchtar Chaniago memberikan buku Antologi Puisi Penyair Nusantara, Jakarta, dan Betawi 4. Foto: FB Sam Muchtar Chaniago
Kesenian Gambang Rancag sekarang ini hidup segan mati pun tak mau dan seniman rancag juga mulai berkurang. Rancag menggunakan gambang sebagai instrumen pokok dalam gambang kromong yang digunakan untuk mengiringi nyanyian sebagai sarana penampilan cerita dalam pantun berkait. Memiliki aspek-aspek seni sastra, musik, dan seni tari, dan teater.
Salah satu pertunjukan Rancag Betawi dia tampilkan saat peluncuran buku Antologi Puisi Penyair Nusantara, Jakarta, dan Betawi 4 dengan tema "Ketika Jakarta Tak Lagi Menjadi Ibukota Negara" di Aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Gedung Ali Sadikin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki di Jakarta, belum lama ini.
Diakui Chaniago, pendanaan buku antologi puisi, Komunitas Literasi Betawi (KLB) sejak tiga tahun lalu masih terus mencari 'celah' agar komunitas sastra ini dapat hidup mandiri. Namun kini, pihaknya mendapat dukungan bantuan dana dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah.
Peluncuran Buku Antologi Puisi Penyair Nusantara, Jakarta dan Betawi 4 "Ketika Jakarta Tak Lagi Menjadi Ibukota Negara" diisi juga dengan baca puisi dari para kontributor seperti Wahyu Toveng, Mita Katoyo, Rissa Churia, Ace Sumanta, Nur Juwita, Ical Vrigar, Boyke Sulaiman, Nurhayati, Hannah Dinar Juwita, Denting Kemuning, Euis Sri Susilowati, Maesaroh, Gilang Teguh Pambudi, H.Shobier Poer, Piet Yuliakhansa dan terakhir baca puisi adalah Penyair Betawi Nurhadi Maulana Saibin.***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0