GENEALOGI SASTRA INDONESIA

Joeang Elkamali
May 16, 2023

lalu Mochtar Lubis lewat romannya yang berjudul Jalan Tak Ada Ujung.

Pasca wafatnya Chairil Anwar, kehidupan kesusastraan Indonesia sempat mengalami krisis. Hal ini ditandai dengan mulai jarangnya para sastrawan menulis puisi, cerpen, novel dan sebagainya. Mereka hanya asyik menulis essai sebagaimana yang dilakukan oleh Asrul Sani dan Rivai Apin. Sebab di tahun-tahun ini, para pengarang merasakan kesulitan terutama untuk mengisi masa kemerdekaan yang tidak mudah diangankan seperti ketika masa penjajahan dahulu. Pemimpin-pemimpin mulai melakukan penyelewengan kekuasaan, bibit-bibit korupsi dan manipulasi mulai merasuk dan merusak masyarakat dan negara, serta pertikaian antara golongan-golongan politik kian nyata dan ini membuktikan bahwa bagi mereka yang penting bukanlah kehidupan bangsa dan negara apalagi rakyat. Melainkan golongannya sendiri, partainya sendiri bahkan dirinya sendiri juga.

Meski periode ini mengalami kelesuan dengan ketiadaan sastrawan yang menulis karya sastra. Namun dalam periode ini muncul pula pengarang-pengarang lain yang turut menyemarakkan kehidupan sastra di Indonesia seperti Nugroho Notosusanto lewat bukunya Hujan Kepagian, A.A Navis lewat novelnya Robohnya Surau Kami, Ramadhan KH lewat novelnya Royan Revolusi serta Iwan Simatupang lewat novelnya Merahnya Merah.

Barulah pada angkatan 66 kesusastraan Indonesia mengalami masa-masa kegemilangan. Seperti lahirnya Taufiq Ismail dengan puisi-puisi kritiknya yang khas sebagaimana termaktub dalam buku Tirani dan Benteng, B Sularto lewat dramanya Domba-Domba Revolusi, Bur Rasuanto lewat romannya yang berjudul Sang Ayah, A Bastari Amin lewat kumpulan cerpennya Laki-Laki Berkuda dan Di Tengah Padang serta Gerson Poyk lewat novelnya Hari-Hari Pertama.

Kemunculan dan kebangkitan sastra ini pun ditandai pula dengan kelahiran penulis-penulis lain seperti Umbu Landu Paranggi, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, Helvy Tiana Rossa,


1 2 3 4 5 6 7 8

Related Post

Post a Comment

Comments 0