Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies. Foto: ist
"Kalau hanya 10 persen dari obligasi itu didivestasi, kurs rupiah bisa kolaps. Bisa meluncur ke Rp18.000 per dolar AS, bahkan berpotensi menembus Rp20.000," ucapnya.
Dalam situasi seperti ini, Anthony menyebut Bank Indonesia berada dalam posisi yang sangat dilematis. Intervensi pasar sudah tidak efektif, sehingga pilihan satu-satunya adalah menaikkan suku bunga.
Namun, langkah tersebut justru berisiko menekan sektor riil yang tengah sekarat. “Sektor riil akan mati perlahan karena suku bunga tinggi. Perusahaan-perusahaan mulai kesulitan membayar bunga dan pokok utang. Kalau ini terjadi, ekonomi bisa masuk ke dalam krisis yang lebih dalam," ucapnya.
Tak hanya moneter, kondisi fiskal pun dinilai mengkhawatirkan. Penerimaan negara turun drastis, sementara kebutuhan pembiayaan meningkat. “Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan atau menurunkan pajak. Dua-duanya berisiko mempercepat keruntuhan ekonomi,” kata Anthony.
Sementara negara lain seperti China langsung bereaksi dengan membalas tarif Trump, Indonesia justru dinilai masih pasif. “Sampai saat ini, belum terlihat reaksi yang memadai dari pemerintah Indonesia. Ini sangat mengkhawatirkan,” tambahnya.
Menurut Anthony, pemerintah perlu segera menyusun langkah antisipatif. “Krisis ini tidak lagi bersifat hipotesis. Ini nyata dan sedang berjalan. Pemerintah harus siap secara strategis dan taktis,” katanya.
Perang dagang global kini memasuki babak baru yang lebih genting. Dunia terpukul, Indonesia terguncang. Waktu semakin sempit, dan keputusan strategis pemerintah sangat menentukan: bertahan atau tumbang.***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0