Jejak Kampung Bidara Cina: Cara Pemerintah Perbaiki Kampung secara Partisipatif

Ida Farida
Aug 05, 2025

Suasana kampung Bidara Cina sekitar tahun 1971. Foto: IG Arsip Jakarta

KOSADATA - Di sebuah sudut Jakarta Timur, di antara rimbun pohon-pohon besar dan deretan rumah-rumah berdinding anyaman bambu, seorang anak laki-laki berjalan santai menyusuri jalan tanah yang becek.

Di belakangnya, anak-anak lain bermain dengan bola rotan, sementara ibu-ibu tampak asyik bercengkerama di depan rumah mereka. Tumpukan batu kali tersusun rapi di tepi jalan, menandakan sebuah perubahan besar tengah berproses di kampung ini.

Inilah Bidara Cina, sekitar tahun 1971. Sebuah kampung sederhana yang menjadi saksi awal program perbaikan kampung di Jakarta, di tengah derasnya arus urbanisasi yang tak terbendung sejak dekade 1960-an.

"Pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an Jakarta menghadapi tantangan besar, yaitu pertumbuhan penduduk yang pesat hingga menyebabkan banyaknya kawasan kumuh tanpa fasilitas yang memadai," tulis akun Instagram arsip Jakarta, dikutip Selasa, 5 Agustus 2025

Kawasan kumuh tumbuh di berbagai penjuru, menghadirkan wajah-wajah Jakarta yang penuh ironi: kota yang terus membangun pencakar langit, namun di sisi lain dihuni oleh permukiman tanpa akses jalan yang layak, sanitasi, maupun ruang publik yang memadai.

Pemerintah DKI Jakarta saat itu tak tinggal diam. Program perbaikan kampung—sebuah inisiatif yang berakar dari semangat gotong royong dan partisipasi warga—mulai dirancang. Bidara Cina menjadi salah satu lokasi percontohan.

Tidak seperti proyek-proyek pembangunan yang hanya menekankan pada beton dan aspal, perbaikan kampung ini menawarkan pendekatan berbeda: warga diajak terlibat aktif, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan.

“Uniknya, perbaikan kampung di Jakarta mengutamakan partisipasi


1 2

Related Post

Post a Comment

Comments 0