Warga Jonggol diminta membuat penampungan air hujan untuk meminimalisir kerentanan sumber daya air. Foto: Badan Geologi
Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Desa Jonggol secara geomorfologi merupakan daerah perbukitan bergelombang landai dengan elevasi antara 50 hingga 150 maml. Secara geologis, daerah ini tersusun atas Satuan Batupasir tufan dan Konglomerat (Qav) pada bagian atas dan Formasi Jatiluhur (Tmj) pada bagian bawah. Satuan Batupasir tufan dan Konglomerat (Qav) terdiri atas batupasir tufan, konglomerat, tuf dan breksi, sedangkan Formasi Jatiluhur (Tmj) terdiri atas batulempung gampingan bersisipan batugamping pasiran (Achdan dan Sudana, 1992).
Desa Jonggol secara hidrologis merupakan bagian hulu dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Cibodas yang airnya mengalir menuju DAS utama berupa aliran Sungai Cipatujah dengan arah aliran relatif ke utara.
Lokasi ini merupakan daerah dengan lapisan batuan pembawa air tanah memiliki produktivitas kecil hingga setempat memiliki produktivitas sedang (Posepowardoyo, 1986). Akuifer produktivitas sedang tersebut bersifat tipis dan tidak menerus. Kondisi tersebut berkaitan dengan kondisi geologi yaitu satuan batupasir dan konglomerat (Qav) yang bersifat sebagai akuifer (lapisan batuan pembawa air) relatif tipis yang menumpang di atas Formasi Jatiluhur (Tmj) yang bersifat sebagai batuan kedap air (akuiklud).***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0