Melawan Stunting

Sani Ichsan
Jun 18, 2023

Dalam masa pertumbuhannya, anak Stunting kerap kurang mampu berkontribusi pada komunitasnya, juga dalam hal ekonomi dan perkembangan sosial sebuah bangsa. Bisa jadi, jika ada anggota suatu kelompok tidak banyak berkontribusi, sangat mungkin yang bersangkutan terjangkit atau akibat dari Stunting.

Data WHO menyebutkan, lebih dari 149 juta anak-anak mengalami Stunting, utamanya di daerah Asia dan Afrika. Menurut Laporan Nutrisi Global (Global Nutrition Report), 30,7% balita di Asia Selatan, 30,9% anak di Afrika Barat dan 27,4% anak di Asia Tenggara terkena Stunting atau cebol atau kerdil. Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara ternyata cukup banyak menyumbang populasi Stunting tersebut.

Kementrian Kesehatan mengeluarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia pada Januari 2023 lalu di angka 21,6%. Angka yang cukup fantastis sekaligus ironis bukan, untuk sebuah negara yang berlimpah hasil alamnya. Stunting ini berdampak pada lemahnya bangsa untuk bersaing dengan yang lebih maju.

Yang sudah dilakukan untuk melawan Stunting ternyata tidak signifikan. Target global sepertinya gagal memerangi kerdil atau cebol ini. Pertemuan Kesehatan Dunia ingin menekan angka Stunting dunia sebanyak 40% di tahun 2025 dan tidak tercapai. Demikian pula Indonesia di era Jokowi yang ingin menurunkan angka Stunting menjadi 14% masih jauh dari kenyataan.

Ironis, bahwa perkembangan pembangunan di banyak negara termasuk Indonesia masih menyediakan pekerjaan besar terkait Stunting ini. Bisa dikatakan Stunting Indonesia dan global berada di ambang kritis. Membiarkan mereka dalam situasi Stunting semacam itu merupakan tragedi kolektif untuk anak, keluarga, komunitas dan bangsa. Diperlukan


1 2 3

Related Post

Post a Comment

Comments 0

Trending Post