Ida Mujtahidah dengan kursi roda listriknya. Foto: Humas UGM
Meskipun begitu, Ida juga menekankan pentingnya peningkatan fasilitas di beberapa area, seperti transportasi kampus yang lebih inklusif dan aksesibilitas gedung tua, untuk mempermudah mobilitas penyandang disabilitas.
Selama kuliah, Ida aktif dalam berbagai kegiatan advokasi untuk penyandang disabilitas. Ia terpilih sebagai best paper presenter di 6th International Conference on Interreligious Studies (ICONIST) yang diselenggarakan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan menjadi bagian dari Sekolah Riset Advokasi Disabilitas 2024 yang merupakan kolaborasi antara SAPDA dan KONEKSI. Keikutsertaannya dalam program tersebut, yang hanya memilih 21 orang dari ratusan periset disabilitas, menambah rekam jejaknya sebagai advokat penyandang disabilitas yang berkomitmen dalam memperjuangkan hak-hak mereka.
Ida berharap, lulusannya dari S2 ini dapat memberi kontribusi besar dalam dunia advokasi, khususnya dalam membangun kebijakan yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas. Ia berencana untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, karena pendidikan tinggi menurutnya memiliki peran penting dalam membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas. “Kampus tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan jaringan profesional yang diperlukan untuk bersaing,” katanya, belum lama ini.
Ida juga menambahkan bahwa masyarakat perlu membangun pemahaman yang lebih baik
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0