Konsepsi ini diejawantahkan Kuntowijoyo dalam sejumlah karya sastranya seperti Makrifat Daun, Daun Makrifat, Khotbah di Atas Bukit, Pasar, Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, Persekongkolan Ahli Makrifat dan sejumlah karya lainnya yang menunjukkan betapa nilai-nilai ilahiah di dalam karya tersebut seolah mengajak manusia untuk kembali kepada titik transendental-nya yakni Allah hingga kemudian muncul sebuah adagium bahwasannya menulis sastra adalah bagian dari ibadah.
Akar Sastra dalam Dakwah Persatuan Islam
Dakwah Persatuan Islam tidak hanya didominasi oleh perdebatan-perdebatan saja. Melainkan menyentuh pula dakwah budaya khususnya sastra. Hal ini terlihat dari hadirnya beberapa sajak yang dipublikasikan di majalah Pembela Islam yang merupakan majalah tertua di Persatuan Islam.
Sajak pertama yang dipublikasikan di majalah tersebut berjudul ‘Sadarlah’ yang ditulis seorang penulis bernama Nasbiroe. Sebuah sajak yang menyeru kepada sekalian kaum muslimin di Nusantara untuk bersikap terhadap persoalan agama yang saat itu dilecehkan oleh kaum sekuler melalui media massanya yakni Djawa Hisworo.
Selain itu, masih di majalah Pembela Islam pula ditemukan sajak yang ditulis oleh Buya Hamka dalam rangka mengenang perjuangan seorang Umar Mukhtar, pejuang muslim dari Afrika. Selain sajak, pada tahun 1930-an pula terbit roman perdana bapak Mohammad Natsir yang berjudul ‘Salah Jalan’ dan di tahun 1950-an, Pak Natsir bersama Pak Nasroen AS menulis pula sebuah roman yang berjudul ‘Hidup Bahagia’
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0