Pedagang beras
Ketut pun menyebut banjir tersebut berpotensi menyebabkan petani gagal panen. “Mudah-mudahan tidak gagal ya, tapi ada potensi yang harus kita waspadai. Itu kan petani mengeluarkan ongkos yang lebih juga. Sementara di tempat lain agak tinggi, di tempat lainnya agak rendah hujannya. Nah ini efek gorila El Nino kita katakan. Dampaknya ini sudah mulai dirasakan petani,” paparnya.
Meski begitu, Ketut menambahkan, pihaknya tetap mengacu pada Kerangka Sampel Area (KSA) BPS, yang menyatakan bulan pada Januari-Februari 2024 ini, produksi padi masih akan minus dari kebutuhan. “Artinya memang Januari-Februari itu memang kita agak lumayan koreksinya,” ujarnya.
Ketut lalu menambahkan bahwa pada bulan Maret nanti KSA BPS produksi Beras diprediksi sudah sekitar 3,5 juta ton. “Jadi akan terjadi surplus. Harapan kita habis Maret, April, Mei, Juni juga terjadi surplus. Kalau itu terjadi, maka mulai lah akan terjadi penyesuaian atau koreksi harga yang ke bawah,” ungkap Ketut.
Di sisi lain, kata Ketut, harga gabah juga terpantau naik. Harga Gabah Kering Panen (GKP) sekarang ini sudah di Rp 7.500 per kg, bahkan ada yang sampai Rp 8.000 per kg. Kemudian, Gabah Kering Giling (GKG) sudah ada yang Rp 8.200-Rp 8.500 per kg.
“Jadi kalau GKP maupun GKG dengan harga segitu, gampangnya dikali 2 saja, dikali 2 memang akan menghasilkan segitu harga (berasnya), nggak jauh dari situ,” ujar Ketut.
Ketut yakin, setelah berkoordinasi
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0