Sejumlah pengunjung di kawasan Dadaha aktif berolahraga. Foto: kosadata
Fenomena ini mencerminkan gaya hidup baru warga urban Tasikmalaya yang makin sadar akan pentingnya kesehatan dan efisiensi waktu. kawasan Dadaha tak lagi sekadar ruang olahraga, tapi telah menjelma ruang sosial.
Di bawah rindangnya pepohonan, orang-orang membakar kalori sambil menyambung silaturahmi dan menggerakkan ekonomi kecil.
Tak jauh dari lapak, deretan karya seni dan bingkai foto dipajang menempel pagar besi. Beberapa anak muda berhenti, memotret dengan ponsel mereka. Sementara itu, suara penjual tahu sumedang bersahutan dengan teriakan anak-anak yang bermain lompat tali di halaman kecil. Hiruk-pikuknya tidak bising, justru hangat—seperti pagi yang dirayakan bersama.
“Ada kepuasan sendiri,” kata Nisa sambil mengunyah potongan pepaya segar. “Badan gerak, hati senang, dapur aman.” Ia lalu melirik jam tangannya. “Masih jam delapan, tapi belanjaan udah lengkap. Sekarang tinggal ajak anak main sebentar sebelum pulang.”
Di Dadaha, hari Minggu bukan cuma tentang olahraga. Tapi juga tentang hidup yang dijalani pelan-pelan—di bawah bayang pepohonan tua dan di tengah hiruk suasana yang bersahabat.***
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0