Kondisi TPST Bantargebang. Foto: KPNas
Oleh: Bagong Suyoto
Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas)
Setiap manusia yang berkuasa, pernah berkuasa ataupun rakyat jelata dalam perjalanannya boleh jadi berada dalam kisaran sejarah. Individu sebagai bagian struktur masyarakat yang mengelola sampah membentuk sejarahnya sendiri. Kekuasaan itu mandat dari masyarakat.
Dalam konteks ini ada yang jadi pemulung, pelapak, tukang sortir, pencacah sampah, tukang bongkar muat, timbang barang, pekerja proses biji plastik/pallet dan daur ulang. Merupakan komunitas atau bagian struktur Masyarakat pula. Komunitas yang punya siklus hubungan-hubungan produksi. Ada yang menjadi buruh dan berposisi sebagai tuan.
Berbeda para pejabat pengelola sampah di pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Mereka bisa dibilang para pembesar negeri, kaum penguasa atau kaum elit yang bermitra dengan pengusaha (kontraktor). Mereka pembuatan kebijakan. Setiap tahun kekayaannya bertambah, seperti mobil, rumah, tanah atau kekayaan lain dari proyek-proyek sampah.
Saya mendeskripsikan dan mengeskplorasi perkembangan manusia sebagai pengelola sampah di sekitar TPST Bantargebang, TPA Sumurbatu Kota Bekasi, TPA Burangkeng Kabupaten Bekasi, TPA Galuga Kabupaten Bogor, TPA Sarimukti Bandung, dll. Tetapi, akan lebih fokus pada manusia di sekitar TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu.
Mengapa dan bagaimana para pengelola sampah berdatangan ke tempat pembuangan sampah? Alasan pemulung, mencari nafkah untuk kelangsungan hidup. Sedangkan alasan pengepul, pencacah plastik dan pengusaha proses biji plastik untuk meningkatkan income dan status sosial ekonomi. Mereka pelaku circular economy sejati.
Dulu, kawasan Bantargebang yang kini sebagai pembuangan
Lirik Sholawat Waqtu Sahar, Lengkap dengan Terjemahan
SISI LAIN Jan 29, 2024Rekrutmen PPSU di Jakarta Dibuka Hari Ini, Cek Syarat dan Tahapannya
MEGAPOLITAN Jun 23, 2025Oseng-oseng Madun, Warung Betawi Sederhana, Terkenal se-Jagat Maya
KULINER Feb 25, 2023Filosofi Iket Sunda yang Penuh Makna
SENI BUDAYA Mar 03, 2024
Comments 0